Angin
mamiri ku pasang…
Pitujui
tongtongana…
Tusarua
takkan lupa…
Eaule na
mangu rangi…
Tutenaya,
tutenaya parisina…
Batumi angin mamiri…
Angin ngerang
dingin-dingin…
Nama
lonta sari kuku…
Eaule na
mangu rangi…
Matolorang,
matolorang jenemato…
-----------
Kapan terakhir kali kalian mendengar atau menyanyikan lagu dari Sulawesi
Selatan tersebut? Kalau saya, sewaktu masih memakai seragam Putih
Merah belasan tahun yang lalu. Namun setelah sekian lama tidak pernah menyanyikan
lagu itu, saya bahkan masih ingat betul teks lagunya. Dan siapa sangka bahwa
ketika saya berada jauh dari Indonesia, saya justru kembali mendengar lagu itu,
yang bahkan dinyanyikan live lengkap dengan penarinya.
Mari kita lihat
video berikut :
Pertunjukan
tersebut diselenggarakan oleh KBRI Alger bertempat di Gedung Pertunjukan Riadh
El Feth-Alger pada tanggal 15 September 2012 yang lalu, dalam rangka peringatan
bersama Hari Ulang Tahun ke-67 Kemerdekaan Indonesia dan Hari Ulang Tahun ke-50
Kemerdekaan Algeria. Pertunjukkan tersebut dimulai pada pukul 19.30 waktu
setempat, dan dibuka dengan penampilan tari kreasi dengan iringan lagu
Indonesia Jaya.
Dalam
pertunjukkan yang berdurasi selama kurang lebih 2 jam tersebut, tidak hanya
Angin Mamiri dari Sulawesi Selatan saja yang tampil, namun juga ada Tarian Bajidor dan Makalangan
dari Jawa Barat, Tarian Rebana dari Banten, Tari Borneo dari Kalimantan, Tari
Tor-tor dari Sumatera Barat, Tari Papua, dan yang paling mengundang kagum para penonton
adalah Tari Panji Sumirang dari Bali. Selain tarian, pertunjukan tersebut juga
menyuguhkan Lagu-lagu Daerah yang dinyanyikan secara live oleh 2 orang penyanyi,
diantaranya membawakan lagu Bubuy Bulan dan Manuk Dadali dari tanah Pasundan, Getuk
dan Bengawan Solo dari tanah Jawa, Rame-Rame dari Ambon, dan Yamko Rambe Yamko
dari tanah Papua.
Dan pertunjukkan
pun di meriahkan oleh kehadiran Bapak Idi Prabawanto, yang merupakan seorang pemain
Suling, dan mampu mempesona para penonton yang sebagian besar adalah Masyarakat
Algeria, dengan keahliannya bermain alat musik tiup tersebut. Dan keseluruhan
penampilan tersebut dibawakan dengan sangat apik oleh muda-mudi dari Studio 26, Jakarta dibawah pimpinan Ibu Ati Ganda.
Acara serupa
juga diadakan tidak hanya di Alger yang merupakan Ibukota Algeria, namun juga
diselenggarakan di dua kota besar lainnya yaitu di Tlemcen pada tanggal 17
September 2012 dan di Constantine pada tanggal 19 September 2012.
Saya memang
bukan salah satu penampil yang berada diatas panggung ketika tepuk tangan
bergemuruh di gedung tersebut, namun melihat antusiasme masyarakat Algeria
terhadap Seni dan Budaya Indonesia yang bahkan tidak mereka pahami bahasanya,
menghadirkan kebanggaan tersendiri dalam hati. Rasa haru hadir ketika menyadari
bahwa kebudayaan dari tanah kelahiran saya mampu dicerna, diterima, dan
diapresiasi dengan begitu baiknya oleh bangsa lain. Dan saya pun ikut bertepuk
tangan dengan penuh bangga.
Disalah satu
sisi gedung tampak berderet-deret muda-mudi Algeria berusia belasan tahun
hingga dua puluhan tahun, tampak antusias memberikan tepuk tangan bahkan
bersorak senang pada akhir pertunjukkan. Lalu terbesit pertanyaan dalam hati
saya, “Apakah para muda-mudi Indonesia juga akan memberikan apresiasi yang sama
antusiasnya ketika disuguhkan pertunjukan semacam ini dihadapan mereka? Atau
bahkan akan memberikan antuasiasme yang lebih mengingat ini adalah budaya
mereka sendiri? Ataukah justru malah tidak begitu antusias karena mungkin
tampak begitu membosankan dan tidak menarik bagi mereka? ”
Saya tidak ingin
memberikan jawaban negative untuk pertanyaan tersebut, dan saya pun tidak ingin
pesimis terhadap para generasi muda Indonesia, karena saya pun salah satu
diantaranya. Saya ingin tetap percaya bahwa teman-teman saya di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia masih
banyak yang memiliki rasa cinta pada budaya Indonesia, bahwa masih banyak
teman-teman saya yang akan mengapresiasi pertunjukkan-pertunjukkan
seni budaya semacam ini dengan antusiasme yang sama seperti mereka
mengapresiasi konser musik Katty Perry, Justin Bieber, Simple Plan, Roxette, Dream
Theater, David Cook, NKOTB&BSB, ataupun boyband-boyband dari Korea yang
hadir di SMTown Concert.
Karena jika
bukan para generasi muda Indonesia yang peduli akan budaya sendiri, lalu siapa
lagi? Kita semua tentu tidak ingin kasus ‘klaim dari negeri sebelah’ kembali
terjadi bukan?
---
Cinta, cinta, cinta
Indonesia…
Negeri bagaikan
permata
Persada
bermandi cahaya
Oh, tanah air
beta nan elok rupawan
Inilah
senandung pujaan
Cinta, cinta,
cinta Indonesia…
Laut nan
membiru terbentang
Di langit
bertaburan bintang
Oh, Ibu Pertiwiku
nan elok rupawan
Inilah lagu
persembahan
Ya Tuhan,
kudengar bisikmu
di kesyahduan
suara seruling
kala malam yang
hening
Menggugah
jiwaku, menyadarkanku
senantiasa setia mengabdi berbakti
dan aku pun berseru…
Cinta, cinta, cinta Indonesia…
Padamu beta
telah menyatu
Padamu beta kan
setia
Oh, tanah
tumpah darahku nan suci mulia
Inilah janjiku padamu
(* song by :
Guruh Sukarno Putra – Cinta Indonesia)
berapa duit ke algeria menerr??
BalasHapus