Kamis, 27 September 2012

Angin Mamiri Bertiup di Bumi Sahara


Angin mamiri ku pasang…
Pitujui tongtongana…
Tusarua takkan lupa…
Eaule na mangu rangi…
Tutenaya, tutenaya parisina…

Batumi angin mamiri…
Angin ngerang dingin-dingin…
Nama lonta sari kuku…
Eaule na mangu rangi…
Matolorang, matolorang jenemato…

-----------

Kapan terakhir kali kalian mendengar atau menyanyikan lagu dari Sulawesi Selatan tersebut? Kalau saya, sewaktu masih memakai seragam Putih Merah belasan tahun yang lalu. Namun setelah sekian lama tidak pernah menyanyikan lagu itu, saya bahkan masih ingat betul teks lagunya. Dan siapa sangka bahwa ketika saya berada jauh dari Indonesia, saya justru kembali mendengar lagu itu, yang bahkan dinyanyikan live lengkap dengan penarinya.

Mari kita lihat video berikut :


Pertunjukan tersebut diselenggarakan oleh KBRI Alger bertempat di Gedung Pertunjukan Riadh El Feth-Alger pada tanggal 15 September 2012 yang lalu, dalam rangka peringatan bersama Hari Ulang Tahun ke-67 Kemerdekaan Indonesia dan Hari Ulang Tahun ke-50 Kemerdekaan Algeria. Pertunjukkan tersebut dimulai pada pukul 19.30 waktu setempat, dan dibuka dengan penampilan tari kreasi dengan iringan lagu Indonesia Jaya.

Dalam pertunjukkan yang berdurasi selama kurang lebih 2 jam tersebut, tidak hanya Angin Mamiri dari Sulawesi Selatan saja yang tampil, namun juga ada Tarian Bajidor dan Makalangan dari Jawa Barat, Tarian Rebana dari Banten, Tari Borneo dari Kalimantan, Tari Tor-tor dari Sumatera Barat, Tari Papua, dan yang paling mengundang kagum para penonton adalah Tari Panji Sumirang dari Bali. Selain tarian, pertunjukan tersebut juga menyuguhkan Lagu-lagu Daerah yang dinyanyikan secara live oleh 2 orang penyanyi, diantaranya membawakan lagu Bubuy Bulan dan Manuk Dadali dari tanah Pasundan, Getuk dan Bengawan Solo dari tanah Jawa, Rame-Rame dari Ambon, dan Yamko Rambe Yamko dari tanah Papua.

Dan pertunjukkan pun di meriahkan oleh kehadiran Bapak Idi Prabawanto, yang merupakan seorang pemain Suling, dan mampu mempesona para penonton yang sebagian besar adalah Masyarakat Algeria, dengan keahliannya bermain alat musik tiup tersebut. Dan keseluruhan penampilan tersebut dibawakan dengan sangat apik oleh muda-mudi dari Studio 26, Jakarta dibawah pimpinan Ibu Ati Ganda.

Acara serupa juga diadakan tidak hanya di Alger yang merupakan Ibukota Algeria, namun juga diselenggarakan di dua kota besar lainnya yaitu di Tlemcen pada tanggal 17 September 2012 dan di Constantine pada tanggal 19 September 2012.

Saya memang bukan salah satu penampil yang berada diatas panggung ketika tepuk tangan bergemuruh di gedung tersebut, namun melihat antusiasme masyarakat Algeria terhadap Seni dan Budaya Indonesia yang bahkan tidak mereka pahami bahasanya, menghadirkan kebanggaan tersendiri dalam hati. Rasa haru hadir ketika menyadari bahwa kebudayaan dari tanah kelahiran saya mampu dicerna, diterima, dan diapresiasi dengan begitu baiknya oleh bangsa lain. Dan saya pun ikut bertepuk tangan dengan penuh bangga.

Disalah satu sisi gedung tampak berderet-deret muda-mudi Algeria berusia belasan tahun hingga dua puluhan tahun, tampak antusias memberikan tepuk tangan bahkan bersorak senang pada akhir pertunjukkan. Lalu terbesit pertanyaan dalam hati saya, “Apakah para muda-mudi Indonesia juga akan memberikan apresiasi yang sama antusiasnya ketika disuguhkan pertunjukan semacam ini dihadapan mereka? Atau bahkan akan memberikan antuasiasme yang lebih mengingat ini adalah budaya mereka sendiri? Ataukah justru malah tidak begitu antusias karena mungkin tampak begitu membosankan dan tidak menarik bagi mereka? ”

Saya tidak ingin memberikan jawaban negative untuk pertanyaan tersebut, dan saya pun tidak ingin pesimis terhadap para generasi muda Indonesia, karena saya pun salah satu diantaranya. Saya ingin tetap percaya bahwa teman-teman saya di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia masih banyak yang memiliki rasa cinta pada budaya Indonesia, bahwa masih banyak teman-teman saya yang akan mengapresiasi pertunjukkan-pertunjukkan seni budaya semacam ini dengan antusiasme yang sama seperti mereka mengapresiasi konser musik Katty Perry, Justin Bieber, Simple Plan, Roxette, Dream Theater, David Cook, NKOTB&BSB, ataupun boyband-boyband dari Korea yang hadir di SMTown Concert.

Karena jika bukan para generasi muda Indonesia yang peduli akan budaya sendiri, lalu siapa lagi? Kita semua tentu tidak ingin kasus ‘klaim dari negeri sebelah’ kembali terjadi bukan?

---


Cinta, cinta, cinta Indonesia…
Negeri bagaikan permata
Persada bermandi cahaya
Oh, tanah air beta nan elok rupawan
Inilah senandung pujaan

Cinta, cinta, cinta Indonesia…
Laut nan membiru terbentang
Di langit bertaburan bintang
Oh, Ibu Pertiwiku nan elok rupawan
Inilah lagu persembahan

Ya Tuhan, kudengar bisikmu
di kesyahduan suara seruling
kala malam yang hening
Menggugah jiwaku, menyadarkanku
senantiasa setia mengabdi berbakti
dan aku pun berseru…

Cinta, cinta, cinta Indonesia…
Padamu beta telah menyatu
Padamu beta kan setia
Oh, tanah tumpah darahku nan suci mulia
Inilah janjiku padamu

(* song by : Guruh Sukarno Putra – Cinta Indonesia)







1 komentar: