Jumat, 31 Agustus 2012

Aout 31, Joyeux Anniversaire...


Terbangun pukul 5 pagi, di tanggal 31 A-Gus-Tus.. 
Dari kaca jendela apartemen, terlihat hujan turun dengan derasnya..

Hujan pertama setelah sekian lama merasakan panas yang luar biasa di Alger, bahkan pernah hingga mencapai 46 C saat sedang upacara peringatan hari kemerdekaan RI di KBRI tanggal 17 Agustus yang lalu. Pertama kalinya saya merasakan duduk di ruang tamu, memandangi tetes-tetes hujan dan kilatan cahaya petir yang terlihat dari kaca jendela apartemen ini. Sendiri, hanya ditemani segelas kopi susu jahe instant yang saya bawa dari Indonesia. :-)

Hujan ini terasa special bukan hanya karena hadir di hari ulang tahun saya, namun juga karena suasana ini mengingatkan saya pada Bogor, kota kelahiran saya, tempat dimana mama, papa, dan keluarga besar saya berkumpul. Saya kangen dengan mereka semua.. Kangen juga dengan sahabat-sahabat dan teman-teman dekat di Jakarta. Kangen dengan semuanya.. Ingin rasanya memeluk mereka semua dalam satu dekapan erat, dan membawa mereka kesini, duduk menemani.. 

Algeria.. Banyak hal yang sudah saya rasakan selama saya disini. Banyak wajah yang telah saya temui disini. Namun kalian semua di Indonesia, tetap jauh lebih special di hati. Hujan ini mungkin bisa menghapus hawa panas dan debu-debu yang dibawa angin panas dari gurun sahara. Namun tidak cukup deras untuk menghapus rasa rindu yang membuncah..

Should I make a wish?
I really don’t know, what should I ask for. 
I believe that Allah knows what’s best for me. Even it seems very hard to go through, but I will just continue to live what I have lived... 

Tidak ada yang istimewa di hari ulang tahun ini. Dingin, sepi, sendiri. Baiklah saya coba untuk membuatnya istimewa… Saya akan masak makanan favorite yang termasuk makanan mahal di Algeria, karena tidak gampang ditemui atau dijual di tempat makan, kecuali bikinan sendiri atau bikinan ibu2 WNI disini.. dan menunya adalah…, 
“Mie Ayam Baso Jamur, komplit dengan Sayur dan Kerupuk” ala chef Fiqhi plus segelas “Air Jeruk Temulawak” yang lagi-lagi secara instant didatangkan langsung dari Jakarta :-) hehehehehehehe



Happy anniversary for me.. 
wish me all the very best.. 
and hope the same wishes for all of my friends too..

*hugs and kisses from Algerie*

--- Fiqhi

Senin, 20 Agustus 2012

Idul Fitri 1433 H



Selamat Hari Raya, Selamat Hari Lebaran..
Raihlah kemenangan, setelah Ramadhan..
Mari berjabat tangan..
Saling Maaf-maafan..
raihlah kemenangan..
Lahir dan Bathin..





Selamat Idul Fitri 1433 H
Minal Aidin wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

-Fiqhi




follow my Twitter @fiqhi_taufieq
or Facebook : Fiqhi Djoesar Taufieq


Minggu, 12 Agustus 2012

Ramadhan di Negeri Sahara


Ada anak bertanya pada Bapaknya...
Buat apa berlapar-lapar puasa?
Ada anak bertanya pada Bapaknya...
Tadarus, Tarawih apalah gunanya?
(* song by : Bimbo)



Menyenandungkan lagu itu, mengingatkan saya akan suasana berpuasa di Tanah Air bersama keluarga dan teman-teman semua. Senang rasanya masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Walau rasanya ada yang kurang, ketika saya harus menjalaninya sendirian, jauh dari keluarga, jauh dari sahabat dan teman-teman semua, dan jauh dari orang tercinta. Namun segala kegalauan itu sedikit tertutupi dengan pengalaman baru merasakan ramadhan yang berbeda dari yang pernah saya alami selama ini.

Setiap kali membaca timeline di twitter, terkadang ‘gatel’ rasanya ingin mengomentari tweet yang muncul dari teman-teman di Jakarta tentang keluhan-keluhan selama puasa, yang panas lah, yang haus lah, yang lapar lah, yang emosi lah, dll. Saya setuju dengan nasihat bijak yang berkata, “seseorang tidak akan mensyukuri nikmatnya sehat, sebelum dia merasakan sakit”, dan mungkin itu yang membuat saya berpikir bahwa puasa yang pernah saya jalani selama di Jakarta rasanya belum seberapa ‘berat’nya dibandingkan puasa tahun ini.

Menikmati berpuasa di wilayah Timur Tengah pada saat musim panas, bagi orang yang belum terbiasa memang membutuhkan kesabaran ekstra. Dimana sekitar pukul 4 pagi kita sudah dihadapkan dengan adzan subuh, dan baru bertemu dengan adzan maghrib sekitar pukul setengah 9 malam. Belum cukup hanya dengan durasi yang lebih panjang, matahari pun tampaknya ingin ikut andil dalam menguji kesabaran kita dengan memancarkan sinarnya yang sangat terik, dan suhu udara pun mencapai kisaran diantara 40-sekian derajat Celcius.

Itu baru rintangan yang diberikan oleh alam, kesabaran masih akan diuji ketika harus berhadapan dengan temperamen penduduk setempat yang semakin meninggi saat puasa ini. At first, I thought that it was just my own opinion, tapi setelah diklarifikasi ke beberapa masyarakat Indonesia yang ada disini, mereka pun mengatakan “orang sini kalo bulan puasa, pada cepet emosi.” 
Well, cukup dimaklumi karena udara sepanas ini memang membuat mudah emosi J But thank God, Allah memang baik hati, dengan caraNya yang tidak kita pahami, dia menurunkan level emosi saya sehingga membuat saya akhir-akhir ini justru merasa lebih sabar daripada biasanya.


Penentuan awal Ramadhan

Memulai ramadhan diawali dengan tarawih pertama yang bila di Indonesia disambut dengan antusiasme yang sangat meriah, tidak hanya dengan masjid yang langsung membludak dikunjungi dari mulai orang tua, remaja hingga anak-anak dengan tingkat keramaian yang mungkin melebihi midnight sale di Debenhams atau Centro, namun juga turut dimeriahkan dengan suara-suara petasan serta acara kumpul-kumpul untuk pesta makan-makan bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Dalam hal ini, tampaknya orang-orang Indonesia lebih antusias dalam menyambut Ramadhan dibandingkan orang-orang Algeria.

Namun dalam hal penentuan awal Ramadhan, Algeria lebih simple dan kompak. Disaat teman-teman saya di Jakarta meributkan tentang awal Ramadhan, ada yang memulai di hari Jumat, ada yang memulai di hari Sabtu, bahkan saya dengar ada juga yang memulai di hari Minggu, masing-masing mempunyai dasar pemikirannya sendiri. Sementara di Algeria, masyarakatnya dengan tanpa banyak cingcong, setia menunggu pengumuman pemerintah pada saat selepas maghrib, untuk mengumumkan apakah esok harinya akan mulai 1 Ramadhan atau belum.

Dan secara kebetulan pada hari kamis malam tanggal 19 Juli saya sedang mengikuti pengajian di KBRI Alger yang memang secara rutin seminggu sekali diadakan untuk masyarakat Indonesia. Selepas shalat maghrib berjamaah, saat acara santap malam sembari menunggu waktu isya, salah satu staff KBRI mengumumkan bahwa atas instruksi resmi dari pemerintah setempat yang diumumkan lewat media radio dan televisi, puasa Ramadhan akan dimulai keesokan harinya. Sehingga agenda shalat Isya berjamaah pun akan dilanjutkan dengan shalat Tarawih berjamaah.

Pengumuman dadakan ini membuat saya berpikir bahwa betapa masyarakat Algeria patuh pada instruksi resmi pemerintah tanpa banyak protes. Bahwa ketika diumumkan besok akan puasa, mereka tidak repot dengan alasan-alasan belum menyiapkan hidangan untuk sahur perdana (red: saya sendiri juga belum menyiapkan untuk makan sahur J ), begitupun apabila ternyata malam itu tidak ada pengumuman bahwa besok akan puasa, mereka tidak akan protes dengan alasan, sudah menyiapkan ini dan itu tetapi malah tidak jadi puasa besok.

Saya merasa tertohok, ini adalah tamparan kedua. Setelah tadi banyak yang mengeluh, puasa di Jakarta panas lah, haus lah, dsb, sementara dibeberapa tempat dibelahan dunia lain banyak yang menjalani puasa dengan situasi lebih panas dan durasi lebih panjang. Lalu dalam kasus ini semakin terlihat bahwa masyarakat kita cenderung banyak complain dan protes, banyak tweet dari teman-teman saya di Jakarta yang kurang lebih berkicau tentang “gimana sih, sebenernya kapan sih puasanya?”, atau “jadi gak sih ini puasa?”, ataupun “mau puasa aja repot”, bahkan hingga jokes-jokes tidak lucu yang di broadcast via BBM yang kurang lebih isinya tentang bahwa puasa tahun ini dibatalkan.

Saya pun kembali teringat akan penentuan Idul Fitri beberapa tahun yang lalu, dimana masyarakat sudah yakin keesokan harinya adalah Idul Fitri, lalu ternyata malam harinya ada pengumuman dari pemerintah bahwa hilal belum terlihat yang berarti bahwa keesokan harinya belum masuk Syawal, lalu secara ramai banyak kicauan-kicauan di twitter yang mengeluhkan hal itu hingga beberapa broadcast BBM yang masuk dengan jokes tentang ‘opor ayamnya keburu basi’.

Negara kita memang demokratis dan majemuk, dan perbedaan pendapat menjadi hal yang lumrah. Namun bukankah tidak bijak, jika untuk urusan beribadah pun kita harus meributkan perbedaan tersebut dengan begitu hebohnya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa, serahkan saja pada ahlinya yang memang bertugas untuk melihat hilal dan menentukan awal ramadhan atau syawal, lalu saya tinggal mengikuti karena memang saya tidak dalam kapasitas untuk men-judge apakah keputusan tersebut benar atau salah. Namun, bila ada diantara teman-teman yang memiliki capability untuk menentukan, dan mempunyai pertimbangan pemikiran sendiri serta yakin akan hal itu, silahkan saja untuk berbeda.

Ibadah adalah hubungan personal antara kita dengan Sang Maha Segalanya, lakukan saja apa yang kita yakini benar tanpa harus meributkan mereka yang berbeda dengan kita, karena bila pun ternyata kita salah, selama hati dan niat kita benar, saya percaya bahwa Allah pun Sang Maha Memahami.


Tarawih, Sahur, dan Berbuka Puasa 
dengan nuansa yang berbeda

Kota Algiers tidak seperti Jakarta yang ‘tetap hidup’ sampai malam hari. Namun tidak seperti malam-malam biasanya yang pukul 10 malam sudah sepi, di bulan Ramadhan justru pukul setengah 10 malam orang-orang ramai berbondong-bondong ke masjid untuk shalat Isya dan Tarawih. Banyak pula penduduk yang memanfaatkan momen ini untuk berdagang di sekitar masjid, dari mulai berjualan minuman segar, makanan kecil, hingga busana muslim seperti gamis, kurta, sorban, peci, dll. Suasananya mengingatkan saya pada para pedagang yang berjualan disamping Masjid Astra setiap usai Shalat Jumat, ketika saya masih kuliah disana.

Suasana malam di Alger ketika bulan Ramadhan memang lebih meriah daripada malam biasanya, walaupun tetap saja tidak sebanding dengan kemeriahan tarawih di Indonesia yang di penuhi oleh suara-suara petasan dan keceriaan anak-anak yang berlari riang kesana kemari. Namun yang saya salut adalah, bahwa di Alger kita tidak akan mendapati fenomena ‘shaft shalat tarawih yang semakin bertambah hari akan semakin maju kedepan’. Para jamaah tarawih tersebut tetap konsisten walaupun durasi shalat tarawih di Alger tergolong cukup lama, dimulai dengan shalat Isya sekitar pukul setengah 10 malam dan tarawih berakhir sekitar pukul satu atau pukul dua dinihari. Dan itu cukup memberi saya alasan untuk lebih memilih shalat tarawih di KBRI atau di Wisma Duta, karena jumlah rakaat dan durasi bacaan surat-nya lebih bisa saya terima J

Tidak adanya kemeriahan suara-suara petasan di Alger juga berbanding lurus dengan tidak adanya suara-suara keramaian anak-anak dan pemuda yang berkeliling kampung untuk membangunkan sahur, seperti yang biasa kita dapati di Tanah Air. Sehingga kita harus sepenuhnya bergantung pada alarm agar tidak kebablasan. Hal ini cukup menjadi kendala, terutama bagi saya yang tinggal sendiri dan hanya bergantung pada alarm di Handphone untuk membangunkan saya.

Namun Allah kembali menunjukkan kebaikan hati, dengan caraNya yang tetap tidak kita pahami, Dia hampir selalu membangunkan saya sekitar pukul setengah tiga sesuai jam alarm yang saya setting. Malah beberapa kali saya dibangunkan saya lebih cepat dari jam alarm, sehingga saya punya waktu lebih untuk menyiapkan makanan sahur. Walaupun demikian, tetap saja ada beberapa hari yang saya terlambat bangun dan kebablasan untuk sahur. Dan di Alger kita tidak akan menemui ‘pengumuman’ tentang sudah masuk waktu imsak, melainkan kita akan langsung bertemu dengan adzan subuh. Dan satu hal lagi, jangan berharap dengan keceriaan sahur dengan hiburan para komedian di televisi, seperti yang biasa saya dapati di Indonesia. Sahur disini rasanya begitu hening dan khusyuk, apalagi bila tinggal sendiri J

Susana berbuka puasa di Alger juga berbeda dengan di Jakarta. Kita tidak akan menemukan mall ataupun tempat-tempat makan yang ramai dipadati pada jam-jam berbuka puasa seperti di Jakarta, yang bahkan kita tidak akan kebagian tempat bila datang sudah terlalu dekat dengan waktu maghrib. Masyarakat Alger lebih memilih untuk berbuka puasa dirumah masing-masing. Sehingga tempat-tempat makan pun baru akan buka sekitar pukul 9 atau pukul 10 malam. Hanya beberapa restoran yang tetap buka pada saat berbuka puasa, diantaranya Restoran China dan Restoran India. 

Saya belum tahu apakah di Alger juga terdapat fenomena maraknya ‘berbuka puasa bersama’ baik dengan teman-teman lama atau dengan keluarga-keluarga yang mungkin lama tidak berkumpul bersama. Setidaknya untuk saat ini, saya harus cukup puas dengan berbuka puasa bersama di KBRI bersama para masyarakat Indonesia disini.


-----------------------------------------------------------

Algeria memang Negara muslim, dan penduduknya juga menyambut Ramadhan dengan suka cita, namun saya tidak menemukan antusiasme yang meriah dan ekspresif seperti di Indonesia. Dan hal itu membuat saya semakin rindu pada tanah air tercinta.

Menuliskan ini, cukup membuat perasaan campur aduk. Baru kali ini saya menjalani Ramadhan dan akan menjalani Idul Fitri, sendirian. Tanpa keluarga, tanpa orang tercinta, tanpa para sahabat, tanpa teman-teman baik, tanpa semua orang yang begitu dekat dihati. Dan juga tanpa buka puasa bersama, tanpa keceriaan sahur bersama teman-teman kost, tanpa kemeriahan sale di pusat-pusat perbelanjaan, tanpa keriuhan antusiasme malam takbiran, tanpa reuni ketika lebaran, tanpa acara sungkeman dan berkumpul dengan keluarga besar, dan satu lagi, tanpa libur panjang cuti bersama.

Ingin rasa memeluk kalian semua dalam satu dekapan, dan membawa kalian semua menemani disini. Semoga kita semua masih diberi umur dan kesempatan untuk berbuka puasa bersama, berlebaran bersama, bersalam-salaman, tertawa bersama dan berbagi keceriaan, mungkin Ramadhan 3 tahun kedepan...


Salam rindu dari Algeria untuk kalian semua
Mohon maaf lahir dan bathin
- Fiqhi -
Foto jaman Pangeran Diponegoro :D
Foto jaman Pangeran Diponegoro :D