Sabtu, 07 April 2012

La première impression d'Alger

Kesan pertama tentang kota Algiers....


Mungkin terlalu dini kalau saya harus menggambarkan tentang bagaimana kondisi di Alger, karena saya baru seminggu berada disini. Dan agak kurang fair juga kalau saya harus menilai suasana di Alger, sementara saya belum menjelajah kemana-kemana, baru di sekitaran kantor dan hotel. Namun ketika banyak terlontar kepada saya, pertanyaan-pertanyaan seputar, “gimana di Alger?”, “enak gak?”, “betah gak?”  dan lain-lain, maka saya coba menulis kesan pertama saya tentang Alger.

Kalau saya harus mencari satu kata yang tepat untuk menggambarkan kesan pertama saya tentang kota Algiers adalah : ‘Sepi’. Kata tersebut bisa dipersepsikan secara positif menjadi ‘Tenang’ ataupun secara negatif menjadi ‘Garing’, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Namun untuk kalian yang terbiasa dengan kehidupan hiruk pikuk Jakarta, yang bahkan sampai tengah malam ataupun dini hari sekalipun tetap ramai, dan kalau kalian tipe yang suka tiba-tiba galau ditengah malam untuk kemudian jalan-jalan keluar mencari keramaian, maka mungkin Anda akan sedikit ‘kaget’ dengan kondisi ini (red : ini bukan bermaksud curcol yaaa.. J  )

Namun tentunya kota ini pun punya begitu banyak hal yang menarik untuk saya share ke kalian. Tapi sekali lagi saya katakan, bahwa ini hanya first impression ya. Masih banyak hal yang saya belum tahu tentang kota ini, dan saya akan mencoba terus membagi cerita saya pada kalian semua.

1.             Cuacanya

Cuacanya cukup ekstreem kalau menurut  saya, namun sayangnya saat ini saya sedang belum pegang  thermometer untuk bisa memberikan data akurat tentang suhu disini. Tapi sebagai gambarannya, disini sedang musim dingin dan kalau malam rasanya lebih dingin daripada Puncak Bogor ataupun Batu Malang, yang jelas cukup mampu bikin saya kedinginan walaupun sudah memakai jaket (hanya jaket, karena coat dan long john milik saya masih dicargo dan belum tiba J )

Tetapi kalau siang matahari bersinar sangat-sangat terik, walaupun angin dingin tetap menderu dengan kencang dan sering.  Pernah suatu ketika disore hari sekitar pukul 3 sore, saya lihat dari jendela hotel matahari sangat terik, lalu saya memutuskan untuk keluar pakai kemeja batik saja. Tetapi begitu keluar lobby hotel, ternyata anginnya kencang dan sangat dingin sampai membuat saya sedikit menggigil, lalu saya lihat orang-orang pada berjalan menggunakan jaket tebal, lalu saya kembali lagi kekamar untuk berganti kaos tangan panjang, syal dan memakai jaket J

Jadi, hanya di Alger kalian bisa merasakan angin dingin yang bertiup kencang sekaligus sepaket dengan matahari yang bersinar terik. Namun menurut info yang saya terima, bila masuk musim panas maka angin dingin tadi berkurang tapi berganti dangan panas yang teramat sangat, dan siang hari yang durasinya beberapa jam lebih lama daripada biasanya.  (*thanks untuk Dr. Doddy  yang sudah membekali saya dengan krim muka ber-SPF 50, saya akan langsung konsultasi lagi begitu kembali ke Jakarta ya dok J )


2.              Suasananya

Apa pendapat kamu tentang gambar disamping ini? 

Ya betul, satu kata ‘Gersang’. 


Itu adalah foto yang saya ambil dari pinggir jalan pada sekitar pukul 4sore, menampakkan lapangan sepakbola yang begitu gersang, dimana ada beberapa anak-anak sedang bermain sepakbola. 
Kelihatannya panas menyengat bukan? 
Ya, mataharinya memang panas menyengat, namun anginnya dingin menusuk, kolaborasi yang cukup complicated J

Kalau kondisi kontur daerahnya penuh dengan tanjakan dan turunan yang curam, jalanannya pun berliku-liku. Alger berada ditepi pantai Laut Tengah, mungkin itu yang membuat cuacanya begitu panas sekaligus berangin kencang.  Laut Tengah disebelah Utara, ditambah dengan adanya Gurun Sahara di sebelah selatan. (red : nanti akan saya posting secara terpisah, cerita dan foto-foto saat berjalan-jalan di pantai yaa J )



3.              Transportasinya

Mobilitas kita akan sangat terhambat kalau tidak punya kendaraan sendiri, karena disini jarang sekali taksi lewat. Ada taksi, namun tidak banyak dan kebanyakan taksi gelap yang katanya tidak disarankan untuk wajah-wajah pendatang seperti saya. Ada bus, namun rute yang dilewati terbatas dan jumlah armada maupun waktu operasionalnya masih sangat minim. Ada metro, namun ya hanya menjangkau beberapa daerah saja. Yang pasti, punya kendaraan sendiri adalah suatu hal yang mendesak disini.

Jalanan disini tidak seperti dijakarta, disini jalan berliku-liku, banyak tanjakan dan turunan curam, serta jalan yang tidak terlalu lebar. Mobil disini setir kiri, dan jangan kaget dengan cara mengemudi orang-orang disini yang menurut saya ‘lumayan berbahaya’, ngebut, main serobot, dan tidak ikut aturan. Dan orang sini sangat temperamen, mereka akan berteriak dan marah jika suatu hal yang tidak enak terjadi dijalan. Saya sempat melihat dua pengemudi bertengkar dipinggir jalan, padahal ada polisi didekatnya, entah pengemudi mana yang salah. 

Yang pasti kondisi dijalanan, cukup membuat saya jiper jika harus mengemudikan mobil sendiri nantinya. Setidaknya untuk beberapa saat kedepan, saya cukup aman dengan diantar jemput supir kantor walaupun mobilitas jadi berkurang J

Oh ya, ada satu hal yang menarik ketika berkendara disini. Mengingat jalan-jalan di Alger cukup sempit, membuat salah satu mobil harus mengalah jika berpapasan. Namun selain itu, jangan kaget bila tiba-tiba ditengah jalan, ada Unta menyebrang, yang tentu saja kita pun harus mengerem mobil dan memberi jalan pada si unta J




4.              Perbedaan waktu

Dipostingan ini saya tidak lagi menceritakan tentang perbedaan waktu antara Jakarta dan Alger yang membuat saya jetlag beberapa hari (red: silahkan baca dipostingan pertama saya J ).

Namun saya ingin bercerita tentang siang hari di Alger yang durasinya lebih panjang daripada di Jakarta. Pukul 19.00 disini keadaan masih terang benderang, maghrib disini sekitar pukul  setengah 8 malam. Padahal ini masih masuk ke musim dingin, saya langsung membayangkan betapa panjangnya durasi puasa nanti, jika ramadhan jatuh dimusim panas, yang bisa dipastikan maghribnya akan lebih dari pukul 8malam L

Matahari sendiri terbit sekitar pukul 5 pagi, hampir sama dengan di Jakarta, namun disini begitu matahari terbit langsung bersinar terang, tidak pakai acara semburat keemasan diufuk timur seperti yang biasa kita dapati di Indonesia (red : berbahagialah hidup di negeri Khatulistiwa). Hal ini membuat saya tergesa-gesa bersiap-siap dipagi hari, seolah-olah sudah siang, padahal ketika saya lihat jam baru pukul 7pagi. Sementara supir baru akan jemput pukul 9 J

Dan pengalaman menarik lainnya adalah, ketika tiba waktunya saya untuk shalat Jumat. Biasanya di Jakarta, saya baru berlari-lari ke Masjid pukul 12 kurang saat Masjid sudah penuh dan shalat jumat sebentar lagi dimulai. Namun saat hari Jumat disini, saya bergegas berangkat pukul setengah12 kurang, karena saya harus berjalan kaki dari Hotel ke Masjid . Sampai di masjid pukul setengah12 dan masih sepi, padahal ternyata waktu shalat Jumat baru dimulai pukul setengah2 siang J

FYI, di Alger hari libur jatuh pada hari Jumat dan Sabtu, sementara hari Minggu adalah hari pertama kerja. Dalam hal ini, saya bisa menghapuskan dua quotes yang selama ini begitu happening diantara anak-anak eksis Jakarta, yaitu : “I don’t like Monday” dan “Thank God, It’s Friday”. Dan saya bisa bebas mengganti quotes itu dengan bahasa perancis (*bukan sombong ya, tapi kode ) dan quotes tersebut saya akan ganti menjadi, “Je n'aime pas les dimanches (I don’t like Sunday)” dan “Dieu merci, c'est jeudi  (Thank God, it’s Thursday)”. (*agak-agak ribet sih ya jadinya J )

Dan saya pun terbebas dari status-status facebook atau BBM maupun tweet-tweet berkisar tentang galau di malam minggu, karena malam minggu disini saya habiskan untuk tidur, karena besoknya masuk kerja (red: mungkin remaja-remaja Alger pada pacarannya di Malam Jumat kali ya, namun sejauh ini saya belum pernah melihat sepasang remaja bermesra-mesraan dimuka umum, sekalipun itu dimalam jumat, sangat kontras dengan pemandangan yang sering saya dapati di Jakarta J )


5.              Penduduknya

Aljazair adalah Negara Muslim, masyarakatnya pun Muslim, dan “Assalamu ‘alaikum” menjadi sapaan wajib disini selain “Bonjour”. Masyarakat muslim disini bervariatif (red: saya menilai secara kasat mata dari pakaian dan penampilannya), ada yang menganut muslim Ortodoks dan sebagian besar terlihat menganut Muslim Modern, namun kita tidak membahas tentang itu lebih lanjut ya J

Masyarakatnya cukup ramah, bila dia tahu kita muslim dan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum” maka mereka akan menyambut dengan hangat dan ramah, terlebih bila mereka tahu kita berasal dari Indonesia. Di Aljazair orang Indonesia disambut dengan baik, bahkan nama Bapak Soekarno (alm) Presiden pertama RI cukup terkenal disana (red : menurut sejarah, beliau ikut aktif berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan di Aljazair saat Konferensi Asia Afrika di Bandung), dan hal itu semakin membuat saya bangga menjadi Orang Indonesia.

Dan hal yang tidak kalah menarik adalah, penduduk asli Aljazair hampir semuanya (*atau bahkan mungkin semuanya) berparas cantik dan tampan. Bahkan ada joke yang terlontar dari teman-teman Indonesia disini, bahwa dari 5 wanita Aljazair, yang cantik ada 10, karena bayangannya pun cantik. J  Walaupun berada di Benua Afrika, namun orang-orang disini berkulit putih, dan juga berhidung mancung, berambut ikal, berpostur tinggi dan berbahasa Perancis dengan sengau-nya yang khas dan bibir yang sedikit dimonyong-monyongkan J


---------------------------------------------------------------




Karena ceritanya sudah cukup panjang, daripada ngantuk dan bosan mari kita sudahi saja cerita ini  J
Namun jangan kuatir, saya masih akan bercerita banyak hal disini.

Tapi sebelum itu, coba teman-teman perhatikan gambar dibawah ini. 
Adakah sesuatu yang aneh dan tidak biasa?


Ya, betul sekali. Keyboard komputer disini susunannya bukan QWERTY seperti yang biasa kita pakai di Jakarta, dan penempatan tombol-tombol yang lain pun berganti posisi. Hal ini membuat saya –yang terbiasa mengetik dengan melihat kelayar tanpa melihat tombol, karena sudah ‘hafal’ dengan posisi tombol- menjadi sering sekali salah dalam mengetik, dan berkali-kali harus dikoreksi. Wah, keyboard ini menghambat kinerja saya dalam menulis blog maupun bekerja (*halaghh alasan..hehehehe)

Keep reading, friends..
kasih comment dan masukannya ya kalau ada bagian-bagian yang salah atau kurang..

Ke Jakarta, aku kan kembali.. Pour Jakarta, je suis de retour..

Disana kasihku, berdiri menunggu..
Di batas waktu yang tak tertentu..
Ke Jakarta, aku kan kembali...
Walaupun apa yang kan terjadi...
(* song by : Koes Plus)

Sebenernya lagu lama ini sudah sejak lama sering saya dengar mengalun dari suara para pengamen setiap kali naik Bus Kota di Jakarta ataupun naik KRL Bogor-Jakarta. Namun ketika lagu ini terdengar saat saya berada dibelahan benua lain yang sangat jauh dari Jakarta, ada rasa berdesir dalam hati. Bukannya bermaksud untuk mellow menggalaow di dinihari ya. Tapi FYI aja nih, saat menulis blog ini, di Algiers sekarang jam 3 pagi dan saya sudah terjaga sejak tadi karena lapar :D maybe badan saya masih merasakan waktu Jakarta yg memang sedang jam 9pagi, waktunya sarapan ditempat bubur ayam langganan dibelakang Setiabudi One…

Tapi honestly.. saya memang sedang kangen dengan Jakarta sekalipun baru seminggu saya meninggalkan tanah air untuk merantau dan mencari keping-keping nafkah di Algeria (red: Al Jazair). Saya jadi teringat dengan ucapan seorang sahabat dekat yang sudah lebih dulu mengambil langkah merantau keluar negeri,bekerja dan menetap di Hongkong. “Gw juga dulu awalnya kangen berat dan homesick, tapi percaya deh, itu paling hanya sampai 3 bulan pertama, selanjutnya lo akan beradaptasi dengan sendirinya akan situasi sekitar”, ucapnya saat farewell dinner beberapa malam sebelum saya berangkat. Baiklah, kita lihat saja nanti apakah 4 bulan dari sekarang saya masih akan kangen dengan Jakarta atau tidak :D

Tapi saya yakin, saya akan tetap kangen dengan segala hal di Jakarta
(Foto 
taken by : my self  *ceritanya mau ambil background bundaran HI dimalam hari*, 
Lokasi : Grand Indonesia, 
Tahun : 2010)




Begitu banyak teman-teman saya (*kadang saya pun demikian) yang sering kali mengeluh dengan kondisi Jakarta yang semakin hari semakin tidak bersahabat. Bahkan malam terakhir saya di Jakarta (red : 26 Maret lalu), Jakarta memberi saya hadiah perpisahan yang indah berupa guyuran hujan yang luar biasa deras disertai angin kencang, tepat disaat saya hendak mengayunkan langkah terakhir keluar dari pintu tempat kost tercinta (*wahhh jadi makin kangen dengan kost-an). Dan perjalanan saya dari kost di Setiabudi ke Plaza Semanggi dengan ojek yang biasanya hanya memakan waktu 5menit, menjadi lebih dari setengah jam dan terasa sangat lama, karena kita semua pasti sudah paham dengan Jakarta yang kalau sudah hujan deras pasti banjir dan jalanan semrawut gak karuan. Naik ojek dengan memakai payung pun menjadi useless karena tetap basah kuyup, didera angin kencang, melewati banjir, dan “disemprot “ oleh buskota yang melewati genangan air dengan tanpa perasaan. Okay, sampai hari terakhirpun saya masih berpikir, Jakarta benar-benar menyebalkan. Namun, ibarat orang tua yang acap kali dibuat kesal dengan kelakuan nakal anak-anaknya, tetap saja dia akan kangen ketika harus berpisah jauh sekian lamanya (*wuaahh sekarang tambah kangen dengan orangtua..)

Jakarta memang punya banyak hal yang menyebalkan, yang saya alami sejak memulai kost sendiri di Jakarta pada tahun 2001. Namun setelah sekitar 10 tahun lamanya saya menetap, berinteraksi, bergaul dan hidup di Jakarta, lalu sekarang harus menjalani hari-hari yang begitu sepi dan garing di kota Algiers, saya malah kangen dengan segala hiruk pikuknya Jakarta, yang tidak pernah ada matinya selama 24jam penuh.


(Foto taken by : chicko, Lokasi : Monas-Jakarta, 
Tahun : 2004)


Saya kangen dengan segala hal yang ada di Jakarta. Bukan hanya Jakarta, tapi saya juga kangen dengan kota Bogor kota kelahiran, Jogjakarta kota penuh memori, dan tentunya Bali kota sejuta pesona. Saya kangen dengan Indonesia. Saya kangen dengan makanannya, suasananya, kultur budayanya, pergaulannya, tempat-tempat hiburan dan wisatanya, serta kenyamanan hidup disana. Saya kangen dengan Keluarga, dan para Sahabat-sahabat saya disana. Saya kangen dengan kalian semua.

Walaupun begitu banyak orang yang membangga-banggakan dirinya bisa keluar negeri -baik untuk jalan-jalan maupun stay disana-, namun saya tetap lebih bangga akan Indonesia. Saya jadi teringat ketika beberapa tahun yang lalu, saya dengan pede dan nekatnya mengikuti ajang pemilihan bergengsi Abang dan None Jakarta (*kepedean banget ya?hehehe). Ketika itu, saya sempat mengatakan, “Saya ingin berbuat sesuatu yang bisa mengharumkan nama Indonesia ke manca negara”, lalu seorang Juri bertanya, “Dengan cara apa kamu akan melakukannya? ”, lalu saya menjawab “One day, I will find my way”. Dan sekarang ini, salah satu jalan sudah terbuka, ini adalah saatnya bagi saya untuk bisa berbuat sesuatu untuk negeri saya tercinta.

Tanah Airku tidak kulupakan..
Kan terkenang selama hidupku..
Biarpun saya pergi jauh..
Tidak kan hilang dari kalbu..
Tanahku yang ku cintai..
Engkau ku hargai..
(* song by : Ibu Soed)