Ada anak bertanya pada Bapaknya...
Buat apa berlapar-lapar puasa?
Ada anak bertanya pada Bapaknya...
Tadarus, Tarawih apalah gunanya?
(* song by : Bimbo)
Menyenandungkan lagu itu, mengingatkan saya akan suasana
berpuasa di Tanah Air bersama keluarga dan teman-teman semua. Senang rasanya
masih diberi kesempatan bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Walau rasanya ada
yang kurang, ketika saya harus menjalaninya sendirian, jauh dari keluarga, jauh
dari sahabat dan teman-teman semua, dan jauh dari orang tercinta. Namun segala
kegalauan itu sedikit tertutupi dengan pengalaman baru merasakan ramadhan yang
berbeda dari yang pernah saya alami selama ini.
Setiap kali membaca timeline di twitter, terkadang
‘gatel’ rasanya ingin mengomentari tweet yang muncul dari teman-teman di
Jakarta tentang keluhan-keluhan selama puasa, yang panas lah, yang haus lah,
yang lapar lah, yang emosi lah, dll. Saya setuju dengan nasihat bijak yang
berkata, “seseorang tidak akan mensyukuri nikmatnya sehat, sebelum dia
merasakan sakit”, dan mungkin itu yang membuat saya berpikir bahwa puasa yang
pernah saya jalani selama di Jakarta rasanya belum seberapa ‘berat’nya
dibandingkan puasa tahun ini.
Menikmati berpuasa di wilayah Timur Tengah pada saat
musim panas, bagi orang yang belum terbiasa memang membutuhkan kesabaran
ekstra. Dimana sekitar pukul 4 pagi kita sudah dihadapkan dengan adzan subuh,
dan baru bertemu dengan adzan maghrib sekitar pukul setengah 9 malam. Belum
cukup hanya dengan durasi yang lebih panjang, matahari pun tampaknya ingin ikut
andil dalam menguji kesabaran kita dengan memancarkan sinarnya yang sangat
terik, dan suhu udara pun mencapai kisaran diantara 40-sekian derajat Celcius.
Itu baru rintangan yang diberikan oleh alam, kesabaran
masih akan diuji ketika harus berhadapan dengan temperamen penduduk setempat
yang semakin meninggi saat puasa ini. At first, I thought that it was just my
own opinion, tapi setelah diklarifikasi ke beberapa masyarakat Indonesia yang
ada disini, mereka pun mengatakan “orang sini kalo bulan puasa, pada cepet
emosi.”
Well, cukup dimaklumi karena udara sepanas ini memang membuat mudah emosi
J But thank God, Allah memang baik hati, dengan caraNya yang tidak
kita pahami, dia menurunkan level emosi saya sehingga membuat saya akhir-akhir
ini justru merasa lebih sabar daripada biasanya.
Penentuan awal Ramadhan
Memulai ramadhan diawali dengan tarawih pertama yang
bila di Indonesia disambut dengan antusiasme yang sangat meriah, tidak hanya
dengan masjid yang langsung membludak dikunjungi dari mulai orang tua, remaja
hingga anak-anak dengan tingkat keramaian yang mungkin melebihi midnight sale
di Debenhams atau Centro, namun juga turut dimeriahkan dengan suara-suara
petasan serta acara kumpul-kumpul untuk pesta makan-makan bersama keluarga dan
orang-orang terdekat. Dalam hal ini, tampaknya orang-orang Indonesia lebih
antusias dalam menyambut Ramadhan dibandingkan orang-orang Algeria.
Namun dalam hal penentuan awal Ramadhan, Algeria
lebih simple dan kompak. Disaat teman-teman saya di Jakarta meributkan tentang
awal Ramadhan, ada yang memulai di hari Jumat, ada yang memulai di hari Sabtu,
bahkan saya dengar ada juga yang memulai di hari Minggu, masing-masing
mempunyai dasar pemikirannya sendiri. Sementara di Algeria, masyarakatnya
dengan tanpa banyak cingcong, setia menunggu pengumuman pemerintah pada saat
selepas maghrib, untuk mengumumkan apakah esok harinya akan mulai 1 Ramadhan
atau belum.
Dan secara kebetulan pada hari kamis malam tanggal 19
Juli saya sedang mengikuti pengajian di KBRI Alger yang memang secara rutin
seminggu sekali diadakan untuk masyarakat Indonesia. Selepas shalat maghrib
berjamaah, saat acara santap malam sembari menunggu waktu isya, salah satu
staff KBRI mengumumkan bahwa atas instruksi resmi dari pemerintah setempat yang
diumumkan lewat media radio dan televisi, puasa Ramadhan akan dimulai keesokan
harinya. Sehingga agenda shalat Isya berjamaah pun akan dilanjutkan dengan
shalat Tarawih berjamaah.
Pengumuman dadakan ini membuat saya berpikir bahwa
betapa masyarakat Algeria patuh pada instruksi resmi pemerintah tanpa banyak
protes. Bahwa ketika diumumkan besok akan puasa, mereka tidak repot dengan
alasan-alasan belum menyiapkan hidangan untuk sahur perdana (red: saya sendiri juga
belum menyiapkan untuk makan sahur J ),
begitupun apabila ternyata malam itu tidak ada pengumuman bahwa besok akan
puasa, mereka tidak akan protes dengan alasan, sudah menyiapkan ini dan itu
tetapi malah tidak jadi puasa besok.
Saya merasa tertohok, ini adalah tamparan kedua.
Setelah tadi banyak yang mengeluh, puasa di Jakarta panas lah, haus lah, dsb,
sementara dibeberapa tempat dibelahan dunia lain banyak yang menjalani puasa
dengan situasi lebih panas dan durasi lebih panjang. Lalu dalam kasus ini
semakin terlihat bahwa masyarakat kita cenderung banyak complain dan protes,
banyak tweet dari teman-teman saya di Jakarta yang kurang lebih berkicau
tentang “gimana sih, sebenernya kapan sih puasanya?”, atau “jadi gak sih ini
puasa?”, ataupun “mau puasa aja repot”, bahkan hingga jokes-jokes tidak lucu
yang di broadcast via BBM yang kurang lebih isinya tentang bahwa puasa tahun
ini dibatalkan.
Saya pun kembali teringat akan penentuan Idul Fitri beberapa
tahun yang lalu, dimana masyarakat sudah yakin keesokan harinya adalah Idul
Fitri, lalu ternyata malam harinya ada pengumuman dari pemerintah bahwa hilal
belum terlihat yang berarti bahwa keesokan harinya belum masuk Syawal, lalu
secara ramai banyak kicauan-kicauan di twitter yang mengeluhkan hal itu hingga
beberapa broadcast BBM yang masuk dengan jokes tentang ‘opor ayamnya keburu
basi’.
Negara kita memang demokratis dan majemuk, dan
perbedaan pendapat menjadi hal yang lumrah. Namun bukankah tidak bijak, jika
untuk urusan beribadah pun kita harus meributkan perbedaan tersebut dengan
begitu hebohnya. Saya secara pribadi berpendapat bahwa, serahkan saja pada
ahlinya yang memang bertugas untuk melihat hilal dan menentukan awal ramadhan
atau syawal, lalu saya tinggal mengikuti karena memang saya tidak dalam
kapasitas untuk men-judge apakah keputusan tersebut benar atau salah. Namun,
bila ada diantara teman-teman yang memiliki capability untuk menentukan, dan
mempunyai pertimbangan pemikiran sendiri serta yakin akan hal itu, silahkan
saja untuk berbeda.
Ibadah adalah hubungan personal antara kita dengan
Sang Maha Segalanya, lakukan saja apa yang kita yakini benar tanpa harus
meributkan mereka yang berbeda dengan kita, karena bila pun ternyata kita
salah, selama hati dan niat kita benar, saya percaya bahwa Allah pun Sang Maha
Memahami.
Tarawih, Sahur, dan Berbuka Puasa
dengan nuansa yang berbeda
Kota Algiers tidak seperti Jakarta yang ‘tetap hidup’
sampai malam hari. Namun tidak seperti malam-malam biasanya yang pukul 10 malam
sudah sepi, di bulan Ramadhan justru pukul setengah 10 malam orang-orang ramai
berbondong-bondong ke masjid untuk shalat Isya dan Tarawih. Banyak pula
penduduk yang memanfaatkan momen ini untuk berdagang di sekitar masjid, dari
mulai berjualan minuman segar, makanan kecil, hingga busana muslim seperti
gamis, kurta, sorban, peci, dll. Suasananya mengingatkan saya pada para
pedagang yang berjualan disamping Masjid Astra setiap usai Shalat Jumat, ketika
saya masih kuliah disana.
Suasana malam di Alger ketika bulan Ramadhan memang
lebih meriah daripada malam biasanya, walaupun tetap saja tidak sebanding
dengan kemeriahan tarawih di Indonesia yang di penuhi oleh suara-suara petasan
dan keceriaan anak-anak yang berlari riang kesana kemari. Namun yang saya salut
adalah, bahwa di Alger kita tidak akan mendapati fenomena ‘shaft shalat tarawih
yang semakin bertambah hari akan semakin maju kedepan’. Para jamaah tarawih
tersebut tetap konsisten walaupun durasi shalat tarawih di Alger tergolong cukup
lama, dimulai dengan shalat Isya sekitar pukul setengah 10 malam dan tarawih berakhir
sekitar pukul satu atau pukul dua dinihari. Dan itu cukup memberi saya alasan
untuk lebih memilih shalat tarawih di KBRI atau di Wisma Duta, karena jumlah
rakaat dan durasi bacaan surat-nya lebih bisa saya terima J
Tidak adanya kemeriahan suara-suara petasan di Alger
juga berbanding lurus dengan tidak adanya suara-suara keramaian anak-anak dan
pemuda yang berkeliling kampung untuk membangunkan sahur, seperti yang biasa
kita dapati di Tanah Air. Sehingga kita harus sepenuhnya bergantung pada alarm
agar tidak kebablasan. Hal ini cukup menjadi kendala, terutama bagi saya yang
tinggal sendiri dan hanya bergantung pada alarm di Handphone untuk membangunkan
saya.
Namun Allah kembali menunjukkan kebaikan hati, dengan
caraNya yang tetap tidak kita pahami, Dia hampir selalu membangunkan saya
sekitar pukul setengah tiga sesuai jam alarm yang saya setting. Malah beberapa
kali saya dibangunkan saya lebih cepat dari jam alarm, sehingga saya punya
waktu lebih untuk menyiapkan makanan sahur. Walaupun demikian, tetap saja ada
beberapa hari yang saya terlambat bangun dan kebablasan untuk sahur. Dan di
Alger kita tidak akan menemui ‘pengumuman’ tentang sudah masuk waktu imsak, melainkan
kita akan langsung bertemu dengan adzan subuh. Dan satu hal lagi, jangan
berharap dengan keceriaan sahur dengan hiburan para komedian di televisi,
seperti yang biasa saya dapati di Indonesia. Sahur disini rasanya begitu hening
dan khusyuk, apalagi bila tinggal sendiri J
Susana berbuka puasa di Alger juga berbeda
dengan di Jakarta. Kita tidak akan menemukan mall ataupun tempat-tempat makan
yang ramai dipadati pada jam-jam berbuka puasa seperti di Jakarta, yang bahkan
kita tidak akan kebagian tempat bila datang sudah terlalu dekat dengan waktu
maghrib. Masyarakat Alger lebih memilih untuk berbuka
puasa dirumah masing-masing. Sehingga
tempat-tempat makan pun baru akan buka sekitar pukul 9 atau pukul 10 malam. Hanya beberapa restoran yang tetap buka pada saat berbuka puasa,
diantaranya Restoran China dan Restoran India.
Saya belum tahu apakah di Alger
juga terdapat fenomena maraknya ‘berbuka puasa bersama’ baik dengan teman-teman
lama atau dengan keluarga-keluarga yang mungkin lama tidak berkumpul bersama.
Setidaknya untuk saat ini, saya harus cukup puas dengan berbuka puasa bersama
di KBRI bersama para masyarakat Indonesia disini.
-----------------------------------------------------------
Algeria memang Negara muslim, dan penduduknya juga
menyambut Ramadhan dengan suka cita, namun saya tidak menemukan antusiasme yang
meriah dan ekspresif seperti di Indonesia. Dan hal itu membuat saya semakin
rindu pada tanah air tercinta.
Menuliskan ini, cukup membuat perasaan campur aduk.
Baru kali ini saya menjalani Ramadhan dan akan menjalani Idul Fitri, sendirian.
Tanpa keluarga, tanpa orang tercinta, tanpa para sahabat, tanpa teman-teman
baik, tanpa semua orang yang begitu dekat dihati. Dan juga tanpa buka puasa
bersama, tanpa keceriaan sahur bersama teman-teman kost, tanpa kemeriahan sale
di pusat-pusat perbelanjaan, tanpa keriuhan antusiasme malam takbiran, tanpa
reuni ketika lebaran, tanpa acara sungkeman dan berkumpul dengan keluarga
besar, dan satu lagi, tanpa libur panjang cuti bersama.
Ingin rasa memeluk kalian semua dalam satu dekapan,
dan membawa kalian semua menemani disini. Semoga kita semua masih diberi umur
dan kesempatan untuk berbuka puasa bersama, berlebaran bersama, bersalam-salaman,
tertawa bersama dan berbagi keceriaan, mungkin Ramadhan 3 tahun kedepan...
Salam rindu dari Algeria untuk
kalian semua
Mohon maaf lahir dan bathin
- Fiqhi -
![]() |
| Foto jaman Pangeran Diponegoro :D |

Jauh berbeda ya. Tapi tau ga, iri rasanya ketika membaca dibagian khusyu beribadah, patuh sama pemerintah, dan bebas keluhan. Selalu banyak sisi positif di setiap kejadian. Tetap smangat fikii..smoga bs buka puasa bareng nanti..insya Allah.. :)
BalasHapusamiinnn.. semoga bisa buka bareng lagi ya aiii..
Hapuskangeenn sama semuanya..
kangen juga sama ayam penyet yg luar biasa maknyuuss ituh :D
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus