Semua orang
pasti ingin bahagia..selalu..setiap saat.. Bahkan dongeng-dongeng masa kecil
kita hampir seluruhnya selalu memberi bayangan dan harapan tentang “live
happily ever after”. Namun, tidak bisa
dipungkiri bahwa tidak ada orang yang akan selalu bahagia dalam hidupnya, pasti
ada saatnya bahagia, ada pula saatnya tidak. Karena roda hidup selalu berputar,
bukan?
Bahagia itu
sebetulnya sederhana. Saya yakin akan banyak orang setuju akan quotes tersebut.
Namun kriteria sederhana itulah yang tidak sama bagi masing-masing individu.
Saya tidak
setuju kalau ada orang yang dengan mudahnya menjudge orang lain dan berkata
“Dia tuh kebanyakan ngeluh. Padahal hidupnya udah enak banget, duit banyak,
kerjaan sukses, rumah mewah, mobil bagus, tampang keren. Masih aja berpikir
hidupnya gak bahagia dan menyedihkan. Padahal banyak orang yang lebih menderita
hidupnya dari dia. Contohnya gw… “ (and bla-bla-bla… berujung curhat). Dia
mengkritik orang lain suka mengeluh, sementara ujung-ujungnya dia pun
mengeluh.. Ingatlah kawan, kriteria ‘bahagia itu sederhana’ tidak sama bagi
setiap individu.
Janganlah
menilai hidup orang lain hanya dari kacamata kita sendiri, karena kita tidak
pernah tahu apa yang ada didalam hati dan pikiran orang lain dan apa saja yang
sudah dia jalani. Kriteria bahagia menurut kamu belum tentu bisa memberikan
kebahagiaan bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Apalagiii… kalau kamu
mengukurnya hanya dari segi materi.
Am I the only one getting’ tired..?
Why is everybody so obsessed..?
Money can’t buy us happiness..
Can we all slow down and enjoy right now…
…
Just wanna make the world dance, forget about the price
tag..
(*
song by : Jessie J – Price Tag )
Tidak perlu
jauh-jauh membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Mari kita flashback
mengingat kembali ke masa lalu, coba kita ingat-ingat dan bandingkan bahwa
ternyata kriteria bahagia yang kita cari saat ini tidak pernah sama dengan
waktu dulu. Bahkan ketika kita mencoba membandingkan hidup kita dengan hidup kita
sendiri pun, ternyata kita punya pemikiran yang berbeda.
Saya akan coba
flashback dan menceritakan tentang apa saja tolak ukur yang bisa membuat saya
bahagia..
Saya coba mundur
beberapa bulan sampai sekitar 2 tahun kebelakang…
Bahagia itu
sederhana. Cukup hanya dengan pulang kerja tanpa beban pikiran dan sempat
nongkrong dengan teman-teman. Secangkir capuccino Starbucks atau donuts J-co.
Ngumpul, ngobrol, cari makan dan tertawa bareng teman-teman kantor atau
teman-teman hangout, kadang dengan sahabat-sahabat sewaktu SMU atau kuliah. Lalu pulang larut malam ke kost-an dan tidur
dengan damai. Hanya itu.. Simple.. bahkan kalaupun tidak ada teman yang sedang
available untuk diajak jalan, cukup hanya dengan jalan kaki dari kost-an ke
seven eleven (OMG saya kangen dengan Setiabudi dan sekitarnya :-) ), hanya sekedar untuk menikmati hot chocolate
sambil melihat Jakarta malam yang ga pernah ada matinya. Bahagia itu sederhana.
Saya coba mundur lagi ke sampai sekitar 5 tahun kebelakang...
Bahagia itu sederhana. Cukup dengan dandan trendy, pergi ngumpul bareng
teman-teman, jalan-jalan ke mall, nonton film di bioskop atau pergi karaoke,
menikmati keriuhan Jakarta sampai malam, dan berakhir dengan hangout ke club, untuk
menikmati hentakan music sampai pagi. Capek? Gak juga, namun bahagia. Bahagia
itu sederhana.
Saya coba mundur lagi jauh beberapa tahun ke belakang, ketika masih
berseragam putih abu-abu...
Bahagia itu sederhana. Cukup dengan guru tidak masuk kelas, tidak ada pe-er
atau dapat dispensasi untuk tidak ikut pelajaran karena aktif di kegiatan
ekskul yang sedang mempersiapkan diri untuk perlombaan. :-) Cukup dengan disayang oleh Wali Kelas yang juga
merupakan Guru Matematika, dan mendapat pujian didepan orangtua saat pembagian
rapor karena menjadi yang paling jago matematika dikelas (*saat itu
yaa…sekarang sih jangan ditanya..hehehehe). Bahagia itu sederhana.
Saya coba untuk mundur lagi ke masa ketika masih berseragam putih biru...
Bahagia itu sederhana. Cukup dengan pergi ke Gramedia untuk numpang baca
buku sepulang sekolah sambil menunggu saat untuk ikut Les Bahasa Inggris (ya
dulu saya sempet jadi kutu buku, yang kalo disekolahpun nongkrongnya di perpus :-) ) Atau kadang, cukup dengan pergi main ke Fun
City untuk main Daytona sampai puas walaupun tidak pernah menang :-) dan satu lagi, tidak lupa Ice Cream Cone Mac-D
yang saat itu kayaknya mewah banget untuk saya :-) Bahagia itu sederhana.
Saya coba mundur lagi ke masa-masa cupu masih pake seragam putih merah...
Bahagia itu sederhana. Cukup dengan diperbolehkan jajan es lebih dari sekali
sehari, tanpa harus jadi pilek dan dimarahi :-) cukup dengan menghabiskan weekend seharian
didepan TV ditemani Doraemon, dan film-film kartun lainnya. Bahagia itu
sederhana.
Saya masih mencoba mundur lagi kebelakang, ketika masih kecil belum
bersekolah...
Bahagia itu sederhana. Cukup dengan menunggu orangtua pulang kerja,
disuapin makan, dan diajak jalan-jalan sore kesekitar rumah ataupun kerumah
saudara-saudara dekat. Cukup dengan bermain bebas lari kesana kesini. Dan cukup
dengan dikelilingi oleh banyak kue-kue enak :-) Bahagia itu sederhana.
Okay, cukup
flashbacknya.. kita berputar lagi, kembali ke masa kini.
Apa kriteria
‘Bahagia itu sederhana’ untuk saya saat ini?
Disaat sedang
berada sendiri, dibelahan benua lain jauh dari orangtua, keluarga, pujaan hati,
sahabat dan teman-teman dekat. Buat saya bahagia itu cukup dengan ada
kesempatan bertemu mereka semua, memeluk erat dan menjabat hangat tangan mereka.
Dan berbincang-bincang dengan mereka, melepas segala kerinduan yang pastinya
akan mengalir dengan deras. Cukup sesederhana itu, namun tidak mudah
direalisasikan. :-( Berharap suatu hari nanti saya bisa
ajak paling tidak orangtua saya kesini untuk menemani, agar rumah ini tidak
sepi karena hanya dihuni oleh seorang pemuda kesepian :-D
Welcome
September.. Hari pertama di usia baru..
Am I happy
enough this day? It’s just me who knows the answer :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar